https://ejournal.unisbablitar.ac.id/index.php/qua/issue/feed Jurnal Qua Teknika 2022-03-31T09:31:12+07:00 Editor jurnal QUATEKNIKA quateknika@unisbablitar.ac.id Open Journal Systems <div class="row"> <div class="col-sm-6 col-md-12"> <div class="img-responsive">Memuat artikel hasil penelitian dan kajian kritis bidang ilmu-ilmu teknik, terapan, rekayasa, teknik elektro, terknik sipil dan aplikasinya.</div> </div> </div> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> https://ejournal.unisbablitar.ac.id/index.php/qua/article/view/2105 PANEL PELACAK SURYA SUMBU GANDA MODE OTOMATIS BERBASIS ARDUINO UNO SEBAGAI CATU DAYA MOTOR POMPA AIR 2022-03-31T08:01:54+07:00 Eko Bayu ekobay02@gmail.com Sri Widoretno swretno@gmail.com Mukhlison Mukhlison mukhlisonst@gmail.com <p>The energy source for electricity generation in Indonesia is mostly supplied from fossil energy, but this energy source will run out in the next 20 years. Various researches are now leading to the development of alternative energy sources such as solar energy. There are two kinds of solar energy utilization technologies, namely solar thermal energy technology and solar photovoltaic energy. Thermal solar energy in Indonesia is generally used for the drying process of agricultural and marine products, while photovoltaic solar energy is used to meet electricity needs, especially in remote areas. Most solar panels are installed permanently at a fixed angle. This causes the solar panels to be unable to absorb solar heat optimally because the sun is always moving. Therefore we need a tool that can move solar panels to follow the direction of the sunlight. The tool used is known as a solar tracker panel. This tool consists of an Arduino Uno as a microcontroller, an LDR (light dependent resistor) as a sensor and a servo motor to drive the solar panels. This tool is double axis, so it can (up and down) as well (to the left and right). The purpose of making this tool is to optimize the absorption of sunlight into the solar panels in order to further reduce the cost of spending electricity PLN. This type of research used in this research is quantitative research with a descriptive approach. The test results proved to be more efficient than the patented on-site solar panels. This tool is applied as a source of energy for water pumps and also for other items such as lamps,.etc</p> 2022-03-16T11:25:34+07:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Qua Teknika https://ejournal.unisbablitar.ac.id/index.php/qua/article/view/2016 SISTEM PENGONTROLAN SUHU PADA PROSES BUDIDAYA BLACK SLODIER FLY (BSF) SEBAGAI ALTERNATIF PENGURANGAN SAMPAH ORGANIK 2022-03-31T08:01:54+07:00 Riska Nur Wakidah riskanurwakidah@kahuripan.ac.id <p>Permasalahan sampah kini menjadi hal yang sudah cukup sulit untuk diselesaikan. Populasi yang semakin meningkat mengakibtakan volume sampah semakin besar. Bukan hanya sampah anorganik, kini sampah oraganik-pun sudah menjadi masalah lingkungan yang cukup besar. belum adanya pengolahan sampah secara maksimal menjadi faktor utamanya. Namun kini penelitian dan pengembangan terkait pengolahan sampah sudah mulai ditingkatkan. Dan salah satu solusi permasalahan sampah organik yang kini tengah ramai adalah menggunakannya sebagai media budidaya Black Slodier Fly (BSF) yang dapat digunakan sebagai pakan ternak.&nbsp;&nbsp; Black Slodier Fly (BSF) atau yang sering disebut manggot adalah salah satu spesies lalat yang dapat mendegradasi sampah organik dengan memanfaatkan larvanya yang akan mengekstrak energi dan nutrien dari sampah organik sebagai bahan makanannya. Dalam perkembangannya, larva BSF sangat sensitif terhadap lingkungan luar seperti suhu dan media pemeliharaannya. Larva BSF dapat berkembang secara optimal pada kisaran suhu 25-30<sup>O</sup> C. Suhu yang terlalu rendah atau tinggi dapat mempengaruhi perkembang biakan BSF dan bobot dari BSF itu sendiri. Dari permasalahan tersebut, pada penelitian ini dibuat kontrol suhu sehingga suhu pada kendang akan stabil pada suhu yan dibutuhkan BSF. Kontrol suhu dilaksanakan dengan desain sistem elektronika digital terprogram. Arduino digunakan sebagai kontroller dari sistem yang dijalankan. Metode kontrol yang digunakan berupa metode analasia hysteresis.</p> 2022-03-16T10:56:12+07:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Qua Teknika https://ejournal.unisbablitar.ac.id/index.php/qua/article/view/2106 ANALISIS ENERGI SPESIFIK PADA SALURAN TERBUKA DENGAN PENAMBAHAN VARIASI PANJANG AMBANG LEBAR 2022-03-31T08:01:54+07:00 Suhudi Suhudi suhudisuhudi@yahoo.co.id Arga Pandawa Arga Pandawa suhudisuhudi@yahoo.co.id <p>Aliran saluran terbuka adalah aliran di saluran dimana air mengalir dengan muka air bebas. Kajian tentang perilaku aliran dikenal dengan mekanika fluida <em>(fluid mechanis</em>). Salah satu klasifikasi aliran melalui saluran terbuka disebut seragam <em>(uniform)</em> yaitu apabila berbagai jenis aliran seperti kedalaman, tampang basah, kecepatan dan debit pada setiap tampang di sepanjang aliran adalah konstan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi dari pengaruh panjang ambang lebar terhadap energi spesifik yang dihasilkan. Pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan mencatat hasil volume (V), waktu (T), tinggi air di hulu (h) dan di hilir (h’) pada tabung hidrolik. Data yang sudah didapatkan kemudian akan dilanjutkan ke tahap analisa data. Analisa yang dimaksud adalah untuk mendapatkan Q (debit), h (hulu) dan h’(penambahan ambang dengan variasi lebar 10 cm, 20 cm, dan 30 cm). Setelah itu dianalisa untuk mendapatkan bilangan Froude, energi spesifik dan jenis aliran yang terjadi akibat ambang. Penelitian ambang lebar saluran terbuka dengan menggunakan 3 variasi debit (4,62 x 10<sup>-3</sup> m<sup>3</sup>/det; 3,24 x 10<sup>-3 </sup>m<sup>3</sup>/det; 1,78 x 10<sup>-3 </sup>m<sup>3</sup>/det) dan 3 variasi ambang (panjang 10 cm, 20 cm, dan 30 cm). Hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa bentuk penampang ambang lebar yang menghasilkan aliran yang efisiensi yaitu ambang lebar dengan panjang 10 cm pada aliran Q<sub>3</sub> ditinjau dari bilangan Froude ˂ 1 yaitu : 0,210 dan kehilangan energi lebih kecil yaitu : 0,068 dan termasuk kategori aliran subkritis.</p> 2022-03-16T11:38:33+07:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Qua Teknika https://ejournal.unisbablitar.ac.id/index.php/qua/article/view/2107 ANALISIS KERAPATAN 3D POINT CLOUDS PADA UAV FOTOGRAMETRI 2022-03-31T08:01:55+07:00 Martince Novianti Bani Martince Novianti Bani novianti_mb@polinema.ac.id <p>Ketersediaan Infomasi Spasial merupakan salah satu faktor utama untuk mengoptimalkan perencanaan pembangunan. Disisi lain, peningkatan kebutuhan data spasial berskala detail terus diupayakan untuk memenuhi tantangan tersebut. Salah satu upaya untuk percepatan penyediaan data dan informasi spasial dengan memanfaatkan teknologi pemetaan dengan wahana <em>Unmanned Aerial Vehicle</em> (UAV). UAV dipandang efektif dan efisien baik itu dari segi waktu maupun biaya. Keakurasian yang dihasilkan oleh citra dari UAV pun terus ditingkatkan. Salah satunya adalah melakukan studi lebih lanjut terhadap data yang dihasilkan oleh wahana UAV yakni peningkatan kerapatan <em>point cloud</em>. Pada penelitian ini, dilakukan analisis kerapatan 3D <em>point</em> <em>clouds</em> dan kekaurasian kerapatan 3D <em>point clouds</em> tersebut direalisasikan dengan mengidentifikasi sejumlah <em>tie points</em> yang ideal pada lokasi <em>von gruber</em> kemudian diterapkan <em>filtering</em>. Setiap nilai hasil <em>filtering tie points</em> akan diproses kembali dengan menerapkan perhitungan <em>bundle</em> <em>adjustment</em> serta penambahan variabel lainnya. Ketelitian dari sejumlah <em>Point clouds</em> yang dihasilkan dari berbagai variasi jumlah <em>tie</em> <em>points</em>, ditentukan berdasarkan nilai RMSEnya</p> 2022-03-16T11:49:20+07:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Qua Teknika https://ejournal.unisbablitar.ac.id/index.php/qua/article/view/2108 INDENTIFIKASI BAWAH PERMUKAAN DI LAPANGAN SEPAKBOLA MINI, JATIMULYO, LOWOKWARU, KOTA MALANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE GEOLISTRIK 2022-03-31T08:01:55+07:00 Gregorius Aryoko Gautama Gregorius Aryoko Gautama aryokog@polinema.ac.id Yusron Firmansah Yusron Firmansah aryokog@polinema.ac.id Linda Alya Grestika Linda Alya Grestika aryokog@polinema.ac.id <p><em>Kota Malang merupakan salah satu Kotamadya di Jawa Timur dengan luas 110.06 km<sup>2</sup> yang memiliki lima kecamatan yaitu Kendungkandang, Klojen, Blimbing, Lowokwaru dan Sukun. Lembar geologi Kota Malang memperlihatkan bahwa daerah Kota Malang terbentuk karena pengendapan Formasi Solo-Gunungapi. Batuan yang dihasilkan pengendapan berupa tufa, tufa pasiran, breksi gunung api, aglomerat dan lava. Metode&nbsp; geolistrik&nbsp; dapat&nbsp; digunakan&nbsp; untuk&nbsp; eksplorasi&nbsp; mineral&nbsp; dan batubara, juga dapat digunakan untuk mengetahui struktur stratigrafi permukaan bawah tanah. Geolistrik dapat digunakan untuk eksplorasi&nbsp; sumber daya alam dengan kedalaman yang dangkal. Resistivitas atau tahanan jenis merupakan nilai yang menunjukkan kemampuan material untuk menghantarkan arus listrik. Fokus penelitian berdasarkan data lembar geologi Kota Malang untuk mengetahui stratigrafi dan geologi di Lapangan Sepakbola Mini, Jatimulyo, Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur. </em><em>Lokasi penelitian berada di Lapangan Sepakbola Mini, Jatimulyo, Lowokwaru, Kota Malang berada di koordinat&nbsp; </em><em>7°56'50.71" LS 112°36'57.77" BT dengan luas penelitian 70m × 45m. Lintasan penelitian adalah lima lintasan dengan jarak antar lintasan 10 meter, panjang setiap lintasan 68,44 meter. Kedalaman yang diperoleh dalam penelitian yaitu 37,28 meter. Interpretasi material bawah tanah yang kami peroleh pada kedalaman 0,0 m – 5,179 m dengan rentang nilai resistivitas 8,859 – 11,2 Ωm di interpretasi sebagai material berupa lempung, pada kedalaman 5,179 m – 10 m dengan rentang nilai resistivitas 11,29 – 12,59 Ωm di interpretasi sebagai material berupa lempung berpasir, pada kedalaman 10 m – 37,28 m dengan rentang nilai resistivitas 12,74 – 15,85 Ωm di interpretasi sebagai material berupa pasir, pada kedalaman 11,5 m – 37,28&nbsp; m dengan rentang nilai resistivitas 16,24 – 18,33 Ωm di interpretasi sebagai material berupa alluvial, pada kedalaman 13,89 m – 37,28 m dengan rentang nilai resistivitas 19 – 20,69 Ωm di interpretasi sebagai material berupa pasir berbatu.</em></p> 2022-03-16T11:59:19+07:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Qua Teknika https://ejournal.unisbablitar.ac.id/index.php/qua/article/view/2096 ANALISIS NERACA AIR SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN PEMANFAATAN AIR DI DAERAH ALIRAN SUNGAI MARTAPURA, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN 2022-03-31T08:01:55+07:00 Kiki Frida Sulistyani kiki.frida@unitri.ac.id Danang Bimo Irianto bimo9200@yahoo.com <p>The water balance in Martapura watershed is calculated to maximise water utilization. The Martapura Watershed is located in Banjar Regency and Banjarmasin City. The utilization of Martapura River are for 6 irrigation area, ​​641 Ha fish ponds area, 25 Swamp Irrigation Areas, 7 intake for raw water, 8 intakes for industry and river maintenance using Q<sub>95%</sub>.Rainfall runoff calculation using the FJ Mock method. The Martapura watershed is divided into 10 sub-watersheds (sub-watershed A to sub-watershed J). Sub-watershed A is Riam Kanan Dam, so it uses outflow reservoir as inflow discharge. the average reservoir outflow discharge is 39,52 m<sup>3</sup>/s, except for the period from November I to December II. Reliable discharge calculation of water availability for other sub-watersheds uses flow duration curve method, for wet year discharge (Q<sub>20%</sub>), normal year discharge (Q<sub>50%</sub>) and dry year discharge (Q<sub>80%</sub>). Calculation of water balance using 2 type water demand, current water demand and potential increasing water demand. There are 3 type of water availability that used in this calculation, dry year discharge, wet year and normal year. The water balance is calculated for each sub-watershed and and followed with the calculation for the total Martapura watershed. The results of the calculation of the dry year water balance in total for one watershed are still in surplus, but the result calculation for each sub-watershed show that there is a deficit in sub-watershed B in November I – December II, due to the small discharge from Riam Kanan Reservoir. In dry years, raw and industrial water flow cannot be increased, but irrigation can be increased in the second planting season, covering an area of ​​2.065 ha in DI and 5.416 ha in DIR. The calculation of the water balance in a normal year, in total the Martapura watershed is still in surplus, but the result calculation for each sub-watershed shows that there is a deficit in sub-watershed B in November I - December II. In normal year discharge, raw water can still be increased by 1,11 m<sup>3</sup>/sec and irrigation area increase in planting season I, 328 Ha and 2.912 Ha in planting season II, ​​while in swamp irrigation area there is an increase in area of ​​648 Ha in planting season I and 5.416 Ha in planting season II. The results of the calculation of the wet year water balance were in total surplus, but each sub-watershed experienced a deficit in sub-watershed B in November I – December II. For this wet year, the raw water can be increased by 2,76 m<sup>3</sup>/sec for irrigation area, there is an increase of 328 Ha in planting season I and 3.862 in planting season II, ​​while in swamp irrigation area there is an increase of 648 Ha in planting season I and 5.416 Ha in planting season II.</p> 2022-03-16T10:32:01+07:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Qua Teknika https://ejournal.unisbablitar.ac.id/index.php/qua/article/view/2040 PENGARUH SUBTITUSI PASIR NGANTANG DENGAN PASIR SILIKA TUBAN TERHADAP KUAT TEKAN BATA RINGAN DENGAN MENGGUNAKAN PROSES CELLULAR LIGHTWEIGHT CONCRETE (CLC) 2022-03-31T08:01:55+07:00 Bobby Asukmajaya R. R. bobbyasukma@polinema.ac.id Sugiharti sugiharti@polinema.ac.id <p>Indonesia as a developing country that is moving into a developed country, has a very large development point of the country. Development has begun to be leveled in many regions, of course, with rapid development, materials that support productivity, quality and efficiency are needed so that they can be utilized properly by the construction world. One that has been widely developed and used is the use of light bricks, with the light bricks the productivity of a construction work is much higher. The process of making light bricks is divided into 2, namely AAC and CLC, the process of making AAC light bricks is generally made by large companies because the manufacturing equipment is quite expensive, while for middle to lower industries generally use the CLC or Celullar Lightweight Concrete system, with a relatively simple process so that easy to apply. There have been many studies that have been developed to produce good CLC lightweight bricks, one of which is by making fine aggregate better, one of which is trying to substitute fine aggregate with Tuban silica sand with a substitution ratio of 0%, 25%, 50%, 75 %, and 100%, The results showed that the substitution with the most optimal mixture was at 75% substitution. This is because at 75% substitution, the compressive strength of lightweight CLC bricks has the greatest value but with a relatively low volume weight compared to other substitutions. In addition, the compressive strength with 75% substitution is in the highest quality III in SNI compared to the other mixtures.</p> 2022-03-16T10:51:40+07:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Qua Teknika https://ejournal.unisbablitar.ac.id/index.php/qua/article/view/2086 EVALUASI KINERJA PERSIMPANGAN BERSINYAL (STUDI KASUS JL. SIMPANG SULFAT UTARA – JL. SIMPANG SULFAT SELATAN – JL. TERUSAN SULFAT – JL. RAYA SULFAT) 2022-03-31T09:31:12+07:00 Rifky Aldila Primasworo Rifky Aldila Primasworo rifky.unitrimalang@gmail.com Blima Oktaviastuti Blima Oktaviastuti blimaoktaviastuti@gmail.com Delan Efri Aldo Delan Efri Aldo delandcivil2@gmail.com <p>An intersection is a place that turns or branches from a straight line. Crossroads with signals, namely road users who pass through the intersection in accordance with the operation of the traffic signal. The sulphate signaled intersection has a high density level as a result of the heavy traffic volume and does not match the road capacity in Belimbing sub-district, Malang city. The research method is by field observation or data collection where the researcher records information through direct events that are being witnessed during the research, one of which is a traffic volume survey conducted using the average traffic survey (LHR) method. The average daily traffic survey is carried out for one week from Monday - Sunday, where the length of observation is 16 hours starting from 06:00 - 22:00 WIB. The evaluation results at the sulphate-signaled intersection show that the degree of saturation of the morning peak hours on each approach is 0.98 North, 1.38 South, 1.79 East and has exceeded the DS value required in the 1997 MKJI, namely 0.75. While the DS value in the Western approach is 0.71 and has met the DS value required in the 1997 MKJI. The predicted results of the sulfate signalized intersection in the 10th year show that the DS value in each approach is 1.10 North, 1.51 South, East 1.78 and West 1.08 and greatly exceeds the DS value in the 1997 MKJI which is 0.75. Changes in WINS, WLETS and making a direct left turn and redesigning cycle times are alternative solutions that are proven to increase the level of service at the intersection from F (obstructed current) to C (stable flow).</p> 2022-03-16T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Qua Teknika https://ejournal.unisbablitar.ac.id/index.php/qua/article/view/2109 ANALISIS SAMBUNGAN KONTRUKSI RANGKA ATAP BAJA BERAT IWF PADA BANGUNAN GUDANG MENGGUNAKAN PEMODELAN EKSPERIMENTAL DENGAN SPESIFIKASI SNI 03-1729-2002 2022-03-31T08:01:56+07:00 Ahmad Khoiron Ahmad Khoiron ahmadkhoiron085@gmail.com Nurjanah Nurjanah ahmadkhoiron085@gmail.com Ahmad Yufron Ahmad yufron ahmadkhoiron085@gmail.com <p>pembangunan suatu kontruksi dengan penggunaan materialbajamenjadi salah satu lebih diminati, serta dapat berkontribusi penting dalam perkembangan dan pertumbuhn ekonimi disemua Negara. Penelitian tentang sambungan konttruksi baja dengan pembuatan <em>prototype </em>sangat jarang dilakukan karena pembuatan ekperimental sendiri memiiki tingkat ketelitian perencanaan yang cukup, serta dapat memperoleh hasil yang maksimal serta efisien. Berdasarkan banyak kendala terutama dalam masalah sambungan baut dan las&nbsp; belum adanya penelitian pada ekperimental rangka atap. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian ekperimental berskala dengan menggunakan literature peneliti terdahulu yang umum digunakan untuk mencari tes uji kekuatan pada kontruksi rangka atap baja. Hasil dari penelitian ini adalah dari perhitungan diatas sambungan baut memiliki kuat tarik 6,048 kg/cm², kuat geser 537,6 kg, dan kekuatan tumpu 120 kg. Dapat disimpulkan bahwa sambungan baut lebih kuat daripada sambungan las.</p> 2022-03-16T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2022 Jurnal Qua Teknika